Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Koperasi Para Seuneu: Merajut Kembali Kedaulatan Benih Di Tengah Gelombang Raksasa Global

Oleh: Agus Pakpahan

Bogor || amki.or.id -- Ada sebuah kenangan yang tersimpan dalam DNA kita. Memori tentang aroma tanah basah setelah hujan, tentang rasa padi yang manis, dan tentang kehangatan api yang menari-nari di malam hari. Bagi para leluhur Sunda, api bukan sekedar penghangat atau penerang. Api adalah jiwa. Api adalah pengetahuan. Dalam tradisi "Para Seuneu", kita menemukan sebuah kejeniusan lokal yang begitu canggih, hingga ilmu pengetahuan modern pun harus berhenti dan memberi rasa hormat.

Bayangkan seorang nini atau aki di tengah sawah, dengan penuh hormat memegang seikat padi. Lalu, dengan ritual yang sakral, beliau mendekatkan padi itu kepada seuneu (api). Ini bukan pembakaran. Ini bukan merusak. Ini adalah sebuah proses penyempurnaan yang dirancang oleh alam bawah sadar kolektif yang memahami bahasa semesta.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik ritual yang tampak sederhana ini?

· Api yang Menyucikan: Leluhur kita tahu, bahwa api memiliki kekuatan untuk membersihkan. Secara biologis, panas dari api membunuh segala penyakit yang menempel di benih: jamur, bakteri, dan virus. Ini adalah teknologi sterilisasi alami pertama yang pernah ada, jauh sebelum manusia menemukan kata "pestisida".

· Api yang Memilih: Benih yang lemah, kopong, dan tidak berkualitas akan gugur diterjang panas. Hanya benih yang terkuat, terisi penuh, dan penuh kekuatan hidup yang akan bertahan. Leluhur kita sedang melakukan seleksi ketat tanpa perlu laboratorium DNA. Mereka mempercayakan seleksi itu pada sang penyuci utama: Api.

· Api yang Membangun: Untuk beberapa jenis benih, sentuhan hangat api adalah alarm alami yang membangunkannya dari tidur panjang. Seperti biji di hutan yang terbakar lalu tumbuh subur, benih yang disentuh api akan lebih siap berkecambah dengan gagah ketika menyentuh tanah.

Dunia yang Diperebutkan: Potensi Ekonomi yang Tersembunyi di Setiap Butir Benih

Namun, di balik kesakralan ritual ini, tersembunyi sebuah realitas ekonomi global yang sangat besar dan seringkali tak terlihat. Industri benih adalah lahan ekonomi raksasa.

Data yang berbicara nyaring: Perusahaan-perusahaan global seperti Bayer Crop Science meraup pendapatan hingga $11.2 Miliar hanya dari bisnis benih dan trait-nya. Corteva Agriscience menyusul dengan $7.5 Miliar. Syngenta Group dan BASF bersama-sama menguasai pasar dengan pendapatan miliaran dolar. Bahkan koperasi Limagrain dari Prancis berhasil menghasilkan $3.2 Miliar dari penjualan benihnya.

Inilah pasar yang diperebutkan. Ini bukan sekadar tentang menanam padi di sawah; ini tentang mengendalikan mata rantai paling vital dari peradaban manusia: sumber kehidupan itu sendiri.

Lalu, di mana posisi kita? Petani Sunda, pemilik warisan Para Seuneu yang tak ternilai, seringkali hanya menjadi konsumen dan penonton dalam pertarungan raksasa ini. Kita membeli benih hasil rekayasa mereka, dengan harga yang mereka curigai, untuk ditanam di tanah kita sendiri.

Koperasi Para Seuneu: Senjata untuk Merebut Kembali Takdir

Inilah mengapa semangat gotong royong leluhur kita harus kita hidupkan kembali dalam bentuk yang paling strategis: Membangun Koperasi Para Seuneu.

Koperasi ini bukanlah romantisme masa lalu. Ia adalah strategi ekonomi yang cerdas dan perlu.

· Lumbung Benih Bersama adalah Kekuatan: Bayangkan jika koperasi kita bisa memproduksi dan menjual benih berkualitas tinggi hasil Para Seuneu modern kepada 10.000 petani. Jika setiap petani membutuhkan benih senilai Rp 500.000 per musim, maka kita sedang mengelola perputaran ekonomi sebesar Rp 5 Miliar per musim. Itu baru dari 10.000 petani! Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa jumlah petani Indonesia ada sekitar 29 juta orang. Dengan skenario di atas ini merupakan bisnis benih Rp 14,5 triliun atau sekitar US$ 906.250.000. Ini belum menghitung kebutuhan benih perusahaan besar.

Ini adalah potensi ekonomi yang selama ini tercecer dan dinikmati oleh perusahaan besar.

· Merek Bersama adalah Kedaulatan: Dengan kualitas yang terjaga, kita bisa menciptakan merek, misal: "BENIH TANDUR SUNDA" atau "BIBIT PARA SEUNEU". Merek yang menjadi simbol kepercayaan, kualitas, dan kearifan lokal. Ini adalah cara kita berdaulat atas produk kita sendiri, bukan hanya menjual komoditas tanpa nama.

· Skala Ekonomi untuk Teknologi: Seorang petani tidak mungkin membeli oven pengering berteknologi panel surya. Tapi bagaimana jika 1000 petani dalam koperasi bersatu? Koperasi dapat membangun "Rumah Para Seuneu Modern"—sebuah pusat pengolahan benih berteknologi tepat guna untuk sterilisasi, pengeringan, dan penyortiran. Kita menyucikan benih dengan api modern, tetapi jiwa dan tujuan tetap sama.

Koperasi adalah “Api yang Menyebar”

Para Seuneu tradisional hanya mencapai satu sudut lumbung. Koperasi "Para Seuneu" modern adalah api yang menyala di setiap jantung komunitas pertanian. Ia bermaksud menghangatkan, dan membakar semangat kebersamaan.

Data pendapatan miliaran dolar perusahaan global bukan untuk kita takuti, tapi untuk kita jadikan bukti bahwa di dalam setiap butir benih terdapat nilai ekonomi yang dahsyat. Nilai yang seharusnya mengalir ke kantung para petani, ke desa-desa, untuk membangun kemandirian dan kesejahteraan kita bersama.

Mari kita mengumpulkan kepingan-kepingan kearifan leluhur yang berserakan. Mari kita satukan dalam sebuah wadah yang kuat: KOPERASI PARA SEUNEU.

Bersama-sama, kita bukan lagi objek pasar. Kita adalah pengendali pasar. Bersama,kita bukan lagi pembeli benih. Kita adalah pencipta dan penjaga benih. Bersama,kita nyalakan kembali seuneu kesejahteraan pangan dan ekonomi kita.

Mari Bangun Koperasi Para Seuneu! Untuk Hari Ini yang Lebih Baik, dan Untuk Lumbung Anak Cucu Kita yang Selalu Berisi.

Ciburial, 8 September 2025

Penulis : Prof. Agus Pakpahan Pakar dan Inovator Pertanian 

Sebelumnya
Bukan Sekadar Ultah, Media Sudut Pandang Ajak Lawan Korupsi Lewat Seminar...
Selanjutnya
AMKI Pusat Audiensi Ke Dewan Pers, Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Media...

Berita Terkait :